Selasa, 25 Desember 2012

SUKMA SEJATI


 Sukma Sejati
  

Di dalam pemahaman kebatinan dan spiritual yang tinggi, pemahaman kebatinan manusia akan sampai pada pemahaman yang dalam tentang Tuhan dan pemahaman yang dalam tentang sifat-sifat dan jati diri manusia yang sejati. Puncak-puncak ajaran keilmuan kebatinan tersebut seringkali diwujudkan dengan nama-nama ajaran kebatinan seperti ajaran Kasampurnan (kesempurnaan), Manunggaling Kawula Lan Gusti, Sukma Sejati, Guru Sejati, Sangkan Paraning Dumadi (hakekat / kesejatian manusia), dsb.
Nama-nama ajaran kebatinan di atas sebenarnya adalah konsep-konsep dasar dalam ajaran penghayatan kerohanian kejawen. Konsep-konsep tersebut diajarkan dalam banyak aliran kebatinan di jawa dengan istilah dan penamaan sendiri-sendiri. Konsep-konsep kebatinan yang sama juga diajarkan di banyak tempat, terutama di India dan sekitarnya, penggunaan istilah dan namanya saja yang berbeda-beda.


Salah satu puncak dalam ajaran kebatinan jawa adalah ajaran Sukma Sejati.
Istilah Sukma Sejati adalah sebuah konsep dasar kebatinan, yang pada prakteknya diajarkan di banyak tempat dan aliran kebatinan dengan penamaan sendiri-sendiri. Ajaran Sukma Sejati tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan konsep ajaran lain, terutama terkait dengan ajaran Manunggaling Kawula Lan Gusti.

Istilah Sukma Sejati merujuk pada pengertian roh agung yang diciptakan Tuhan dalam pribadi manusia, roh sejati manusia yang sesuai dengan citra penciptaan manusia oleh Tuhan. Ajaran ini menekankan penghayatan keyakinan bahwa dalam diri manusia sebenarnya sudah terkandung roh agung ciptaan Tuhan yang berbeda dengan roh-roh lain, hanya saja dalam kehidupan sehari-harinya manusia terlalu larut dalam hidup keduniawian, sehingga menjauhkan roh manusia dari Roh Tuhan. Manusia lebih dekat dengan duniawinya, sehingga jauh dari penciptanya. Dan banyaknya pengkultusan dalam hidup berkeagamaan justru semakin menjauhkan manusia dari Tuhan, menjadikan Tuhan semakin jauh untuk dijangkau.

Dalam ajaran ini manusia diajak mendekatkan diri kepada Tuhan, menyelaraskan sifat-sifat manusia dengan sifat-sifat Tuhan, bersandar dan menyelaraskan diri dengan kuasa Tuhan, dan diajak untuk melepaskan diri dari belenggu keduniawian, melepaskan sifat-sifat tamak dan serakah pada kepemilikan duniawi yang dapat mengotori kesucian hati dan batin manusia. Ajaran ini didasarkan pada kepercayaan untuk kembali kepada kemurnian jati diri dan sifat-sifat manusia yang sejati sesuai kehendak Tuhan saat penciptaan manusia.

Ajaran Sukma Sejati mengajarkan penghayatan kesejatian manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Ajaran Sukma Sejati mengedepankan sisi roh agung yang diciptakan Tuhan dalam pribadi manusia, roh sejati manusia, yang harus dijaga kesuciannya oleh si manusia, dan bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan rohnya manusia harus menyembah Tuhan.

Ajaran Sukma Sejati yang mengedepankan sisi roh agung yang diciptakan Tuhan dalam pribadi manusia, sukma sejati manusia, mengindikasikan bahwa manusia tidak memerlukan roh lain untuk disembah, dan tidak memerlukan roh lain sebagai sumber kekuatan (khodam). Sebagai roh agung ciptaan Tuhan, roh / sukma sejati manusia memiliki keillahian, yang bila sisi keillahian ini diutamakan, maka roh / sukma sejati manusia-lah yang akan berkuasa atas roh lain, bukannya dikuasai oleh roh lain. Untuk itu manusia yang bersangkutan harus menyandarkan hidupnya dan mengkondisikan sukmanya supaya selalu selaras dengan keillahian Tuhan.
Para penganut kebatinan di atas menemukan suatu kekuatan yang tumbuh di dalam diri mereka, yaitu kekuatan Sukma Sejati, kekuatan roh agung yang diciptakan Tuhan dalam pribadi manusia. Mereka merasakan adanya suatu energi yang menyelimuti tubuh mereka, membuat tubuh terasa "tebal" berselimut energi, dan energi ini bukan hanya mengisi tubuh, mengisi badan, tangan dan kaki, tetapi juga mengisi hati, menjadikan kehendak batin dan ucapan-ucapannya jadi !  saking kersaning Allah. Kekuatan yang mirip seperti tenaga dalam, tetapi jauh lebih kuat daripada tenaga dalam. Kekuatan ini tidak dapat dipelajari dengan cara latihan fisik ataupun olah nafas. Kekuatan ini terbangkitkan ketika seseorang mesu raga, mengesampingkan kekuatan biologis dan hasrat keduniawian. Kekuatan ini berasal dari jiwanya yang paling dalam, dari sukmanya, dari  jiwa yang menyembah Tuhan.
Awalnya kekuatan ini tidak bisa dikendalikan secara pikiran, hanya dibiarkan saja mengalir mengisi tubuh, tetapi kemudian bisa dikendalikan secara batin. Kekuatan ini jelas bukan bagian dari kekuatan fisik, karena kekuatan ini adalah kekuatan sukma manusia. Kekuatan ini terkendalikan dengan menyatukannya dengan kehendak dan niat batin, merasuk menyatu dengan hati.

Sesuai tingkatan kedalaman penghayatan keyakinan pada 
kesejatian diri  dan kekuatan kebatinan masing-masing penganutnya, kesatuan roh pancer dan sedulur papat sebagai  Sukma Sejati  seseorang akan mampu meniadakan roh-roh dan pribadi lain dalam diri seseorang, menjadi perisainya dari serangan roh-roh lain, dan menempatkan dirinya tidak di bawah pengaruh atau kuasa roh-roh duniawi lain. Kekuatan dan kegaiban sukma manusia meniadakan roh-roh lain dari tubuhnya, dan bahkan roh-roh gaib kelas atas seperti dewa dan buto pun tidak berani datang mendekat untuk maksud menyerang. Banyak di antara penganutnya yang selain juga mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, juga mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati, walaupun sudah berhari-hari mati (yang belum waktunya mati).

Ketika kekuatan ini sudah menyatu merasuk dalam diri seseorang, maka kekuatan dari niat batin dan kehendaknya bisa menjadikan suatu kejadian hanya dengan mengkonsentrasikan batinnya saja, tanpa perlu amalan gaib atau aji-aji.  Kegaiban seorang linuwih dan waskita. Dan semua perkataannya jadi !   Dan ketika kekuatan ini menyatu dengan kesaktiannya, maka sulit sekali ada
manusia dan mahluk halus yang dapat menandinginya, karena kesaktiannya menjadi berlipat-lipat ganda kekuatannya setelah dilambari dengan kekuatan sukmanya dan dirinya sendiri diliputi oleh suatu kegaiban yang tidak dapat ditembus oleh ilmu gaib dan aji-aji kesaktian. Sekalipun seseorang tidak memiliki ilmu kesaktian kanuragan, tetapi kekuatan fisiknya akan menjadi jauh lebih kuat ketika dilambari dengan kekuatan sukmanya, suatu kekuatan yang jelas tidak semata-mata berasal dari kekuatan fisiknya. Selain diri mereka sendiri diliputi oleh suatu kegaiban yang tidak dapat ditembus oleh ilmu gaib, kegaiban mereka pun dapat menenggelamkan (menghapuskan) keampuhan ilmu gaib dan ilmu khodam (ilmu sihir dan guna-guna).

Orang-orang yang menekuni dan mendalami kebatinan ini biasanya memiliki kegaiban dan kekuatan sukma yang tinggi, yang berasal dari keselarasan batin dan sukmanya dengan ke-maha-kuasa-an Tuhan, menjadikannya memiliki kegaiban tinggi, dan menjadikannya orang-orang yang linuwih dan waskita. Mereka membentuk pribadi dan sukma yang selaras dengan keillahian Tuhan, membebaskan diri dari belenggu keduniawian, sehingga berpuasa dan berprihatin tidak makan dan minum selama berhari-hari bukanlah beban berat bagi mereka, dan melepaskan keterikatan roh mereka dari tubuh biologis mereka, kemampuan melolos sukma, bukanlah sesuatu yang istimewa. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian moksa, bersama raganya berpindah dari alam manusia ke alam roh tanpa terlebih dahulu mengalami kematian.

Kekuatan kegaiban tersebut di atas memang tidak mudah mendapatkannya. Seseorang harus menempa dirinya, mesu raga penuh keprihatinan untuk menempa batin dan sukmanya. Laku puasanya pun berbeda dengan puasa yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Jenis puasanya adalah apa yang disebut puasa ngebleng. Puasa ngebleng banyak dilakukan oleh orang-orang yang bergelut dalam dunia kebatinan / spiritual dan tapa brata. Kegaiban dalam puasa ngebleng tidak dapat disamakan dengan puasa bentuk lain. Puasa ngebleng terkait dengan kekuatan dan kegaiban sukma manusia. Semakin gentur laku puasa seseorang, semakin kuat sukmanya dan semakin kuat kegaibannya. (baca :
Laku Prihatin dan Tirakat).
Pada orang-orang yang tekun mendalami kebatinan / spiritual dan tapa brata, peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, kemampuan terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegaiban sukma mereka, merupakan kemampuan gaib yang menyatu dengan diri mereka, menjadikan mereka orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari kegaiban sukma mereka, sebagai efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual dan tapa brata mereka.
Selain menjadi mumpuni dalam kesaktian fisik, kegaiban sukma mereka juga menjadikan mereka mengerti dunia kegaiban tingkat tinggi, mahluk-mahluk halus tingkat tinggi, dewa dan wahyu dewa, dan weruh sak durunge winarah, dan kekuatan gaib sukma mereka menjadikan mereka berkuasa di alam gaib, mengalahkan kekuasaan roh-roh dan mahluk halus tingkat tinggi sekalipun, dan mereka juga berkuasa menciptakan kegaiban-kegaiban, tanpa perlu amalan gaib dan khodam.
Banyak orang yang benar mendalami kebatinan, misalnya yang mengikuti pendalaman kebatinan melalui aliran-aliran kebatinan kejawen yang mengajarkan kesejatian manusia, dalam dirinya sudah terkandung kegaiban yang ketika pasrah menerima dirinya diserang dan dianiaya, justru dirinya menjadi tidak dapat diserang dan tidak dapat dikenai pukulan, dan bila berniat memberi pelajaran kepada penyerangnya, orang itu hanya perlu mengkonsentrasikan kegaiban sukmanya bahwa ketika seseorang menyerangnya, maka penyerangnya itu akan kehilangan kekuatannya, kehilangan ilmunya, diam mematung tak dapat bergerak, lumpuh tak dapat berdiri, dsb. Kegaiban sukma mereka memusnahkan keampuhan ilmu gaib dan ilmu khodam (ilmu sihir dan guna-guna) dan berbagai macam bentuk serangan gaib.
Seseorang yang sudah sedemikian itu, yang sadar dirinya sudah seperti itu, maka istilah-istilah sekti tanpa aji, digdaya tanpa japa mantra, ngluruk tanpa bala, suro diro jaya ningrat lebur dening pangastuti, menang tanpa ngasorake, dsb, bukan hanya menjadi slogan-slogan filosofis, tetapi sudah menyatu dengan kepribadian dan diamalkan dalam kehidupan mereka yang harus senantiasa selaras dengan ke-maha-kuasa-an Tuhan. Segala kekuatan jahat dan kesombongan manusia akan luluh dan tunduk oleh perbawa pengayoman, kebaikan dan kerendahan hati.

Sesuai kedalaman penghayatan kebatinan mereka :
Sukma Sejati akan menjadi Guru Sejati-nya, memberinya pencerahan setiap saat dan menuntunnya pada segala sesuatu perbuatan benar  yang harus dilakukannya.
Sukma Sejati akan menjadikannya Aku yang baru, sebuah pribadi baru yang merupakan pengejawantahan kesejatian pribadi sang Sukma Sejati.
Sukma Sejati akan hidup kuat di dalam dirinya, dan menjadi kekuatan dalam hidupnya.



Ada satu penggalan kalimat dari suatu amalan dalam kebatinan spiritual kejawen. Walaupun kelihatannya biasa saja dan biasa digunakan sebagai bagian dari suatu amalan ilmu, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam yang merupakan salah satu puncak ilmu kebatinan spiritual kejawen, yaitu ajaran tentang  Sukma Sejati,  yang bila mampu memahami, menghayati, dan mengamalkannya, dan menekuninya sebagai suatu doa atau amalan ilmu, selain dapat menambah hikmat kebijaksanaan, juga dapat mewujudkan suatu kekuatan sukma / batin yang luar biasa tinggi. 

Kalimat-kalimatnya adalah sebagai berikut :

  Sukma Ingsun Sukma Sejati       
  Sukma Sejatining Urip                
  Urip Sejatining Manungsa       
  
  .............                                 



Sukma Ingsun Sukma Sejati .......      

Sukmaku adalah sukma sejati. Sukmaku adalah sejatinya aku.

Sukma merupakan jati diri seseorang yang membedakannya dari pribadi yang lain. Dan sukma ini tidak boleh diisi atau digantikan dengan sukma atau pribadi lain yang bukan jati dirinya, yang dapat menjadikannya pribadi yang berbeda yang bukan merupakan sejatinya dirinya. Jika ada sukma atau pribadi lain dalam diri seseorang, itu bukanlah sejatinya dirinya.

Diriku adalah milik sukmaku, bukan milik pribadi lain atau roh-roh lain.
Tidak ada roh yang memiliki aku, mempengaruhi aku atau berkuasa atas aku, selain sukmaku.
Sukmaku meniadakan sukma lain dalam diriku.  Sukmaku adalah Aku.



Sukma Sejatining Urip .......               

Sukma sejati di dalam hidup. Sukma adalah sejatinya hidup. Sukma menjadi sejati bila hidup.

Sukma menjadikan manusia memiliki hidup dalam dirinya, memiliki kebijaksanaan hidup, menjadikan manusia mengenal dirinya, mengenal jalan hidup, mengenal rencana dan tujuan hidup, mengenal peradaban dan mengenal Tuhan. Sukma menjadikan manusia mengenal perbuatan baik dan jahat. Sukma menjadikan manusia mengenal perbuatan yang bermanfaat dan perbuatan sia-sia tak berguna.

Sukmaku adalah roh hidup, bukan roh orang mati.
Sukmaku menjadikan aku hidup.
Sukmaku sejati di dalam aku.
Sukmaku di dalam aku, tidak lemah, tidak mati.



Urip Sejatining Manungsa .......         

Hidup sejati di dalam manusia. Hidup adalah sejatinya manusia. Sejatinya manusia adalah hidup.

Jika hidup itu sudah diambil daripadanya, maka dia bukan lagi manusia, tetapi jasad, atau roh orang mati. Manusia hidup jangan ingin mati. Hidup yang dijalani oleh seseorang menjadikannya suatu pribadi yang utuh. Karena itu sudah seharusnyalah manusia mengisi hidupnya dengan sepatutnya, karena hidupnya itulah yang menjadikannya manusia yang sebenarnya. Kesadaran akan hidup menjadikan hidup manusia menjadi lebih hidup dan menuntun manusia kepada hidup yang lebih tinggi dan menuntunnya juga kepada Sang Pencipta Hidup. Jangan pernah menyerahkan hidup kepada roh lain, kepada sukma lain, kepada pribadi lain.
Jangan pernah ada putus asa.
Jangan pernah ada urip sajeroning mati   atau  mati sajeroning urip.

Hidup menjadi sejati di dalam manusia dan sejatinya manusia adalah hidup.
Manusia menjadi sejati bila hidup.



Sukma Sejatiku adalah Aku.   Aku HidupTidak LemahTidak Mati.



---------------------------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar